Tentang Kami

Mengenal lebih dekat visi, komitmen, dan tim di balik iDEA Hub

Apa itu iDEA Hub?

iDEA Hub (Indonesian Disability-Inclusion for Education and Accessibility) adalah portal informasi seputar pendidikan tinggi yang inklusif untuk seluruh mahasiswa di Indonesia. Didirikan pada tahun 2024, iDEA Hub berfokus pada inklusi disabilitas dalam pendidikan tinggi. Diinisiasi bersama oleh Telkom University dan Lancaster University serta didanai oleh British Council dan Telkom University, iDEA hadir untuk memberikan akses informasi mengenai pendidikan tinggi inklusif bagi siswa dan orang tua yang ingin mencari universitas ramah disabilitas di seluruh Indonesia.

Komitmen & Nilai Kami

Kami berkomitmen pada nilai-nilai Inklusivitas (Inclusivity), Kesetaraan (Equity), Aksesibilitas (Accessibility), dan Pendidikan (Education), yang menjadi dasar dalam setiap langkah kami untuk menciptakan lingkungan pendidikan tinggi yang sepenuhnya inklusif untuk semua. Melalui inisiatif ini, kami percaya bahwa setiap individu memiliki hak yang sama untuk meraih pendidikan tinggi dan mengembangkan potensi terbaik mereka, sehingga #SemuaBisaKuliah.

5 Tujuan Utama

Proyek ini memiliki 5 tujuan utama yang saling terkait yang menjadi dasar pengembangan panduan bagi para staf:

  • Membangun pusat penelitian kolaboratif.
  • Memetakan penyediaan layanan inklusif bagi penyandang disabilitas di perguruan tinggi di Indonesia.
  • Mendengarkan dan belajar dari mahasiswa penyandang disabilitas.
  • Mengembangkan praktik-praktik yang inklusif bagi penyandang disabilitas.
  • Mempengaruhi perubahan di tingkat kebijakan.

Mengenal iDEA Hub Lebih Dekat

Tonton video singkat berikut untuk memahami bagaimana iDEA Hub bekerja dan memberikan dampak positif.

Di Balik iDEA Hub

Orang-orang berdedikasi yang mewujudkan platform inklusif ini.

ID Project Lead

Dr. (c) Amanda Bunga Gracia, M.A

Dosen Telkom University dan kandidat doktor yang aktif mendorong pendidikan inklusif dan komunikasi kesehatan. Co-founder dari iDEA. Aktif dalam lokakarya wirausaha siswa tunarungu dan mendampingi riset mahasiswa bipolar. Ia percaya komunikasi adalah jembatan inklusi.

UK Project Lead

Dr. Jonathan Vincent

Dosen di Lancaster University yang meneliti transisi hidup penyandang disabilitas dari sekolah hingga dunia kerja. Terlibat dalam proyek internasional, penasihat kebijakan (Inggris, Malta, Australia), dan pembimbing individu autis di lingkungan kerja.

ID Deputy Lead

Sarah D. Ekaputri, M.I.Kom

Dosen PR di Telkom University yang giat menyuarakan isu keberlanjutan dan inklusi dalam pendidikan. Aktif menyelenggarakan event untuk kelompok rentan. Lewat risetnya, ia menunjukkan ketertarikan pada isu branding, komunikasi pemasaran, dan isu sosial.

UK Deputy Lead

Dr. Ann-Marie Houghton

Dekan EDI di Lancaster University, mendedikasikan kariernya untuk membangun sistem pendidikan tinggi yang adil. Aktif mengajar, memimpin proyek nasional, dan mengembangkan kurikulum kesejahteraan. Pengalamannya sebagai pengguna kursi roda memperkuat komitmen kesetaraan.

Project Manager

Aiza Nabilla Arifputri, M.A.

Dosen Komunikasi yang akrab dengan dunia pengajaran dan pengabdian masyarakat terkait inklusi disabilitas. Co-founder iDEA yang aktif mengelola kegiatan sejak awal dan mengembangkan semangat inklusif di kelas maupun komunitas.

Project Manager

Septiana Yustika, M.I.Kom

Dosen Public Relations sekaligus praktisi kreatif yang tertarik pada isu-isu pop culture dan media baru. Di luar akademik, ia juga aktif menyuarakan kesetaraan gender dan memperjuangkan suara kelompok termarjinalkan melalui media.

Metodologi

Bagaimana cara Kami mengumpulkan basis data perguruan tinggi di IDEA?

Kami menggunakan analisis web dengan logika Boolean (Boolean logic) pada universitas yang terdaftar menerima mahasiswa penyandang disabilitas. Tujuan analisis ini adalah untuk menganalisis informasi di situs web universitas tentang apa saja dukungan yang mereka berikan kepada mahasiswa penyandang disabilitas. Variasi dari pendekatan ini telah berhasil diterapkan di Inggris, Kanada, dan Amerika Serikat (Vincent et al, 2020; Ames et al, 2022; dan Nachman et al, 2022).

Prosedur yang kami lakukan adalah sebagai berikut:

  1. Lembaga-lembaga yang terdaftar di Layanan Mahasiswa Disabilitas (LMD) (n=274), pada waktu peninjauan.
  2. Untuk memastikan keberagaman jenis disabilitas, pencarian hanya dilakukan pada lembaga-lembaga yang menerima tiga atau lebih jenis disabilitas (n=132).
  3. Nama universitas, jenis (swasta/negeri), dan lokasi regional dicantumkan.
  4. Istilah pencarian Boolean yang digunakan adalah: Situs: (situs web kampus) "Layanan" ATAU "Fasilitas" ATAU "Ketersediaan" DAN "Disabilitas" ATAU "Daksa" ATAU "Rungu" ATAU "Netra" ATAU "Emosi dan Perilaku" ATAU "Komunikasi" ATAU "Autisme" ATAU "Perhatian dan Hiperaktif" ATAU "Kesulitan Belajar Spesifik".
  5. Halaman web yang sesuai dengan kriteria pencarian Boolean kemudian ditinjau kembali untuk menilai relevansinya.
  6. Halaman web yang memenuhi kriteria di atas disimpan ke dalam sebuah daftar di bawah label pelaporan berikut ini: Layanan/Pusat Disabilitas; Jalur Penerimaan Mahasiswa Disabilitas; Aksesibilitas Kampus; Akomodasi Akademik; Dukungan Sosial; Dukungan Kesehatan Mental; Penyediaan Lapangan Kerja.